Desa terbangun. Anak-anak merengek karena ngompol atau karena lapar. Laki-laki pada bergegas ke sumur, mencuci mukanya. Sementara wanita-wanita didapur sibuk mempersiapkan hidangan ala kadarnya untuk mereka yang ke sawah. Seorang bocah, 7 tahun, bangun telanjang bulat. Embun pagi yang menyusup kedalam rumah tak membuat dia menggigil. Diloncatinya bale bambunya. Lewat jendela, ia loncat keluar, lari ke kebun belakang rumah. Sambil menatap kelangit yang makin cerah, ia pun kencing. Pancuran air kencing kuning muda itu menimbulkan lingkaran-lingkaran indah pada permukaan tanah. Alangkah leganya si bocah! Sambil menikmati suara pancuran kecil itu, dia melihat ke ayam jago yang bertengger di pagar, sambil mengepak-ngepakkan sayapnya dan berteriak ke alam bebas. “kukuruyuuuuukk!” ketika namanya dipanggil ibunya dari dalam rumah, si bocah belum mau cepat-cepat masuk. Matanya terpaut kepada sepasang ayam yang sepagi itu sudah CAP-CIP-CUS… ketika ayam betina tegak kembali dari runduk nikmatnya, sembari menggelepar-geleparkan sayapnya, barulah si bocah berteriak sambil tersenyum geli sendirian dalam hatinya. “kiyaaa…!” ibunya mendelik dari belakang daun jendela. Sempat ia melihat saat-saat nikmat sepasang ayam tadi. Hmmm! Sepagi ini… tak sempat ibu muda itu melanturkan lamunan-lamunan romantiknya, si bocah yang dipanggil telah masuk. Dia harus segera mengguyurnya di sumur…si bocah harus sekolah. Karena semua-kenal-semua di desa ini, ramailah tegur sapa dari yang dilewati dan yang melewati. Mulai dari Pak Mantri Kesehatan, Pak Guru Kepala Sekolah Dasar satu-satunya di desa mereka. Sampai Pak Koramil (seorang sersan tua yang mukanya penuh codetan GAM ketika operasi di Aceh dulu yang juga merangkap sebagai guru sejarah dadakan). “selamat pagi Pak Mantri, Pak Guru, Pak Sersan!” dan pembesar-pembesar desa itu pun membalas tegur sapa itu dengan ramah. Tegur sapa dari orang-orang yang satu-persatu mereka kenal. Dan karena tegur sapa itu, hari itu telah menjadi titik tolak bagi mereka. Alangkah nyamannya hidup dengan titik tolak. Tanpa titik tolak tidak mungkin ada titik sampai. Yaitu, misalnya malam yang sejuk dengan kopi yang nyaman, tempat tidur yang empuk, sprei putih yang mengajak, dan akhirnya seorang istri yang montok. Ketika sang bocah selesai menelan singkong rebusnya, segera buku tulis satu-satunya dia sergap. Dan dalam sekejap dia sudah berada di jalan. Jalan desa yang akan mengantarnya kesekolah. Beberapa temannya sudah menunggu. Tanpa BA-BI-BU, dia lari kecil-kecil menyusul temannya. Kancing kemejanya lepas satu. Rambutnya tak tersisir, cukup dielus kebelakang oleh ibunya…dengan penuh kasih sayang. Ibunya mengantar anak kesayangannya itu dengan pandangan yang bersinarkan kasih, harapan, cita-cita, dan………oh! Beban hidup yang semakin berat saja, terutama bagi kaum kecil di desa-desa. Sungguh ironis dengan keadaan negara tetangga yang hanya berjarak beberapa meter saja, yang jauh lebih kecil, jauh lebih sempit, dan jauh lebih makmur. Dan ketika si bocah bersama kawan-kawanya menepi untuk sebuah truk tentara yang lewat, ia menempelkan seluruh dirinya, uci mukanya. Sementara wanita-wanita didapur sibuk mempersiapkan hidangan ala kadarnya untuk mereka yang ke sawah. Seorang bocah, 7 tahun, bangun telanjang bulat. Embun pagi yang menyusup kedalam rumah tak membuat dia menggigil. Diloncatinya bale bambunya. Lewat jendela, ia loncat keluar, lari ke kebun belakang rumah. Sambil menatap kelangit yang makin cerah, ia pun kencing. Pancuran air kencing kuning muda itu menimbulkan lingkaran-lingkaran indah pada permukaan tanah. Alangkah leganya si bocah! Sambil menikmati suara pancuran kecil itu, dia melihat ke ayam jago yang bertengger di pagar, sambil mengepak-ngepakkan sayapnya dan berteriak ke alam bebas. “kukuruyuuuuukk!” ketika namanya dipanggil ibunya dari dalam rumah, si bocah belum mau cepat-cepat masuk. Matanya terpaut kepada sepasang ayam yang sepagi itu sudah CAP-CIP-CUS… ketika ayam betina tegak kembali dari runduk nikmatnya, sembari menggelepar-geleparkan sayapnya, barulah si bocah berteriak sambil tersenyum geli sendirian dalam hatinya. “kiyaaa…!” ibunya mendelik dari belakang daun jendela. Sempat ia melihat saat-saat nikmat sepasang ayam tadi. Hmmm! Sepagi ini… tak sempat ibu muda itu melanturkan lamunan-lamunan romantiknya, si bocah yang dipanggil telah masuk. Dia harus segera mengguyurnya di sumur…si bocah harus sekolah. Karena semua-kenal-semua di desa ini, ramailah tegur sapa dari yang dilewati dan yang melewati. Mulai dari Pak Mantri Kesehatan, Pak Guru Kepala Sekolah Dasar satu-satunya di desa mereka. Sampai Pak Koramil (seorang sersan tua yang mukanya penuh codetan GAM ketika operasi di Aceh dulu yang juga merangkap sebagai guru sejarah dadakan). “selamat pagi Pak Mantri, Pak Guru, Pak Sersan!” dan pembesar-pembesar desa itu pun membalas tegur sapa itu dengan ramah. Tegur sapa dari orang-orang yang satu-persatu mereka kenal. Dan karena tegur sapa itu, hari itu telah menjadi titik tolak bagi mereka. Alangkah nyamannya hidup dengan titik tolak. Tanpa titik tolak tidak mungkin ada titik sampai. Yaitu, misalnya malam yang sejuk dengan kopi yang nyaman, tempat tidur yang empuk, sprei putih yang mengajak, dan akhirnya seorang istri yang montok. Ketika sang bocah selesai menelan singkong rebusnya, segera buku tulis satu-satunya dia sergap. Dan dalam sekejap dia sudah berada di jalan. Jalan desa yang akan mengantarnya kesekolah. Beberapa temannya sudah menunggu. Tanpa BA-BI-BU, dia lari kecil-kecil menyusul temannya. Kancing kemejanya lepas satu. Rambutnya tak tersisir, cukup dielus kebelakang oleh ibunya…dengan penuh kasih sayang. Ibunya mengantar anak kesayangannya itu dengan pandangan yang bersinarkan kasih, harapan, cita-cita, dan………oh! Beban hidup yang semakin berat saja, terutama bagi kaum kecil di desa-desa. Sungguh ironis dengan keadaan negara tetangga yang hanya berjarak beberapa meter saja, yang jauh lebih kecil, jauh lebih sempit, dan jauh lebih makmur. Dan ketika si bocah bersama kawan-kawanya menepi untuk sebuah truk tentara yang lewat, ia menempelkan seluruh dirinya, hidupnya, dan masa mendatangnya, kepada sorak-sorak mereka. “INDONESIA! INDONESIA!”
Suatu pagi di tapal batas
September 3, 2009Hello world!
September 3, 2009Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!